Konsep-konsep Dasar Dalam Ilmu Geografi

Posted by on 20 April 2016 - 11:34 PM

Konsep dasar merupakan rancangan dasar yang paling penting untuk menggambarkan hakikat atau struktur suatu ilmu. Konsep dasar geografi berbanding lurus dengan pengertian dan aspek geografi sebagai ilmu pengetahuan. Geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta interaksi antar manusia dengan lingkungannya. Geografi mengkaji tentang persamaan dan perbedaan geosfer dengan sudut pandang keruangan dan kewilayahan.

Konsep dasar geografi merupakan poin penting yang digunakan dalam pengembangan ilmu geografi. Konsep dasar digunakan untuk memahami fenomena-fenomena dan gejala geografi yang berkaitan dengan hubungan, pola, fungsi, penyebaran, bentuk, dan prosesnya.

Secara garis besar ada sepuluh konsep dasar yang digunakan dalam ilmu geografi yaitu konsep lokasi, konsep jarak, konsep keterjangkauan, konsep pola, konsep morfologi, konsep aglomerasi, konsep kegunaan, konsep interaksi, dan konsep differensiasi areal.
 

Konsep Lokasi

Konsep lokasi merupakan konsep utama yang menjadi ciri khas dari ilmu geografi. Karena secara khusus mempelajari tentang gejala alam, maka hal pertama yang menjadi fokus ilmu geografi adalah letak atau lokasi dimana gejala atau fenomena tersebut berlangsung dan diamati.

Berdasarkan konsistensi letaknya, ilmu geografi membagi konsep lokasi menjadi dua jenis yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif. Kedua konsep lokasi inilah yang sejak awal pertumbuhan ilmu geografi terus dikaji dan dikembangkan.

Lokasi absolut merupakan lokasi tetap yang ditinjau berdasarkan sistem koordinat garis lintang dan garis bujur. Letak yang ditunjukkan berdasarkan koordinat ini disebut letak astronomis. Letak astronomis tidak dipengaruhi oleh perubahan kondisi sekitar.

Lokasi relatif merupakan lokasi yang berubah-ubah berdasarkan keadaan sekitarnya. Letak yang ditunjukkan berdasarkan kondisi tempat yang bersangkutan dan lingkungan di sekitarnya disebut letak geografis.

Dalam perkembangannya, geografi lebih fokus untuk mengkaji fenomena dan gejala alam berdasarkan lokasi relatif karena fenomena alam sangat erat kaitannya dengan perubahan dan hubungan antar komponen yang terlibat di dalamnya.

Konsep Jarak

Jarak dapat diartikan sebagai selisih letak antara satu titik dengan titik lainnya. Lebih khusus, geografi memandang jarak sebagai faktor pembatas yang bersifat alami sebagai ruang yang mengkoneksikan dua lokasi atau objek.

Jarak biasanya dihitung dan dinyatakan dalam satuan panjang atau dikonversikan ke dalam satuan waktu. Berdasarkan satuan hitung yang digunaka, konsep jarak dapat dibagi menjadi dua yaitu jarak mutlak dan jarak relatif.

Jarak mutlak merupakan selisih antar lokasi atau jarak yang diukur dan dinyatakan dalam satuan pajang misalnya dalam satuan meter atau kilometer. Dengan satuan tersebut, jarak antar lokasi dapat diketahui secara mutlak dan besifat pasti berdasarkan teknik pengukuran.

Jarak relatif merupakan selisih antar lokasi atau jarak yang dihitung dan dinyatakan dalam satuan waktu. Satuan waktu yang digunakan untuk menunjukkan jarak dapat dilihat berdasarkan lamanya perjalanan atau waktu yang dibutuhkan untuk yang ditempuh.

Sesuai dengan namanya, jarak relatif besifat tidak tetap atau berubah-ubah tergantung dengan cara atau proses yang digunakan untuk menempuh jarak tersebut. Hal ini berkaitan langsung dengan konsep keterjangkauan. Artinya, jarak dari satu tempat ke tempat lain akan berbeda begantung kepada cara yang digunakan untuk menempuhnya.

Konsep Keterjangkauan

Keterjangkauan menunjukkan seberapa mudah suatu lokasi untuk dijangkau. Konsep keterjangkauan tidak hanya bergantung pada jarak tetapi juga bergantung kepada kondisi medan dan ketersediaan alat pendukung seperti alat komunikasi dan alat transportasi.

Sebuah desa yang terletak di pedalaman dan tidak ada akses jalan yang memadai akan memiliki keterjangkauan yang rendah dibandingkan sebuah kota yang dilengkapi dengan fasilitas trasnportasi meskipun jarak mutlak yang ditempuh untuk menuju kota jauh lebih panjang dibanding jarak mutlak ke desa.

Suatu tempat atau lokasi yang sulit dijangkau karena ketidaktersediaan alat komunikasi dan transportasi disebut lokasi terisolir. Sekalipun lokasi tersebut tidak terlalu jauh dari tempat lain namun karena sulit untuk diakses, maka lokasi tersebut menjadi terasing.

Kurangnya sarana komunikasi dan transportasi yang menyebabkan suatu lokasi terisolir pada dasarnya diesebabkan oleh kondisi alam atau kondisi medan yang tidak mendukung misalnya terdiri dari rangkaian pegunungan yang tinggi, rawa-rawa, jurang terjal, hutan lebat, dan sebagainya.

Konsep keterjangkauan secara tidak langsung juga berkaitan dengan kebudayaan masayrakat di suatu lokasi. Adakalnya kebudayaan masyarakat yang cenderung tertutup dan menolak kehadiran pendatang atau kebudayaan baru menyebabkan lingkungan tersebut terisolir dari perkembangan atau peradaban luar.

Konsep Pola

Konsep pola berkaitan dengan susunan, bentuk, atau persebaran fenomena atau gejala tertentu. Setiap fenomena atau gejala memiliki pola tertentu yang dapat diamati dan dipelajari. Pola-pola tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek yang secara langsung berkaitan dengan proses dan sebab akibat.

Dari aspek fisik, geografi mempelajari pola-pola dari fenomena alam yang terjadi di permukaan bumi baik di darat, laut, maupun di udara seperti pola aliran sungai, jenis tanah, curan hujan, persebaran vegetasi, dan sebagainya.

Dari aspek sosial, geografi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungannya melihat dan memperhatikan pola-pola dari fenomena sosial yang terjadi di suatu lingkungan masyarakat atau komunitas misalnya pola permukiman, jenis tempat tinggal, persebaran penduduk, mata pencaharian, dan sebagainya.

Salah satu tujuan dari pengamatan pola tersebut adalah untuk melihat berbagai bentuk pola yang menunjukan ciri khas dari suatu fenomena alam dan sosial sehingga dapat dimaknai dan dimanfaatkan dengan cara intervretasi dan modifikasi sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Konsep Morfologi

Konsep morfologi menjelaskan bagaimana struktur luar batuan yang kemudian menyusun bentuk permukaan bumi. Morfologi merupakan wujud dari permukaan bumi sebagai proses geologi berupa pegangkatan atau penurunan wilayah.

Konsep morfologi berkaitan erat dengan bentuk permukaan bumi yang berhubungan langsung dengan berbagai faktor baik faktor dari alam seperti erosi, ketersdiaan air, pengendapan, pelapukan, dan sebagainya serta faktor dari luar yang datang dari aktivitas manusia.

Melalui konsep morfologi geografi mengkaji berbagai bentuk permukaan bumi seperti daratan rendah, dataran tinggi, pulau, pegunungan, lembah, lereng gunung, daratan aluvial, cekungan, patahan dan sebagainya.

Dari aspek sosial, konsep morfologi berkaitan langsung dengan konsep keterjangkauan dan penggerombolan. Bentuk permukaan bumi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keterjangkauan suatu lokasi dan persebaran manusia.

Lokasi dengan morfologi yang berbentuk daratan atau plato merupakan lokasi yang lebih mudah digunakan sebagai daerah permukiman dan relatif lebih mudah dijangkau. Kondisi inilah yang menyebabkan persebaran penduduk lebih banyak di daerah lembah daripada di daerah lereng gunung yang terjal.

Konsep Aglomerasi

Aglomerasi atau penggerombolan merupakan persebaran yang terpusat di satu titik tertentu. Konsep aglomerasi menunjukkan bahwa persebaran cenderung berpusat pada lokasi yang menguntungkan baik secara morfologi dan keterjangkauan.

Konsep aglomerasi lebih cenderung mengkaji tentang penggerombolan penduduk dan faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran tersebut. Selain karena faktor alam, pengelompokkan biasanya juga terjadi karena faktor yang datang dari aspek sosial.

Faktor-faktor sosial yang memicu penggerombolan penduduk di suatu tempat tertentu antaralain adanya kesamaan visi, kebudayaan, struktur dan status sosial, gender, nilai ekonomis, dan sebagainya.

Konsep aglomerasi dalam ilmu geografi dapat dimanfaatkan sebagai acuan untuk melihat pola-pola persebaran. Penggerombolan dapat dijadikan sebagai penunjang sistem ekonomi untuk memajukan perekonomian.

Konsep Kegunaan

Konsep kegunaan atau konsep fungsi berkaitan langsung dengan nilai guna suatu fenomena baik fenomena alam maupun fenomena sosial berupa interaksi antar manusia dan segala hal yang dianggap bernilai oleh manusia.

Nilai guna atau manfaat suatu fenomena bersifat relatif bergantung pada individu atau golongan yang menilainya. Hal ini juga ditentukan oleh berbagai faktor seperti orientasi hidup, usia, jenis kelamin, sistem ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.

Daerah pantai yang bersih dan sejuk cenderung berpotensi untuk dijadikan sebagai tempat wisata. Bagi orang yang berorientasi di bidang itu, tentu akan menilai daerah itu sebagai daerah yang memiliki nilai guna yang tinggi karena ia bisa memanfaatkan lokasi tersebut untuk berbisnis di bidang pariwisata dan sebagainya.

Akan tetapi, bagi orang yang orientasi hidupnya lebih kepada pemanfaatan sumber-sumber di daratan seperti perkotaan, daerah pantai tersebut akan cenderung bernilai guna rendah dibanding daerah perkotaan yang padat penduduk dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

Konsep Interaksi dan Interdependesi

Konsep interaksi dan interdependensi mencoba untuk melihat hubungan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya. Konsep ini berhubungan dengan fakta bahwa suatu daerah akan saling mempengaruhi dengan daerah lainnya dimulai dengan adanya interaksi.

Interaksi yang terjadi pada akhirnya akan menciptakan suatu kondisi dimana masing-masing komponennya saling mempengaruhi. Konsep ini uga berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Konsep Diferensiasi Areal

Differensiasi merupakan proses pembentukan suatu sistem sehingga dihasilkan suatu ciri yang membedakannya dengan yang lain. Differensiasi areal menunjukkan adanya integrasi dari berbagai unsur yang mejadikan arela tersebut berbeda dengan areal lainnya.

Konsep ini dapat digunakan untuk membandingkan dua wilayah karena setiap wilayah memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Perbedaan ciri khas antara satu wilayah dengan wilayah lainnya merupakan salah satu pendukung terbentuknya interaksi antar wilayah.

Konsep Keterkaitan Keruangan

Konsep keterkaitan keruangan selaras dengan aspek geografi sebagai ilmu yang mempelajari konteks keruangan dan kewilayahan. Geografi mempelajari gejala geosfer dan persebarannya dalam suatu wilayah atau ruang dan interaksi manusia dengan lingkungannya.

Keterkaitan juga terlihat pada fenomena atau gejala alam. Keterkaitan tersebut dapat dilihat melalui hubungan sebab akibat antar satu fenomena dengan fenomena lainnya. Misalnya banjir bandang terjadi akibat hutan gundul. Hutan menjadi gundul akibat aktivitas manusia berupa penebangan liar dan sebagainya.

Advertisements